Friday, August 14, 2009

Wisata Hati (2) : Makam Sunan Giri


Perjalanan dari JMP (Jembatan Merah Plaza) Surabaya menuju Gresik menggunakan angkot berupa mobil Kijang yang dimodifikasi sehingga dapat memuat penumpang sampai 10 orang lebih. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan-jalan di Kota Surabaya yang sedikit macet dan panas. Kondektur tak henti-hentinya menambah penumpang, sehingga kami yang di dalam angkot serasa ikan sarden yang saling terhimpit dengan peluh mengucur. Kira-kira satu jam perjalanan, tiba kami di Kota Gresik yang lebih bersih. Beda dengan Surabaya yang panas dan berdebu, Kota Gresik walaupun juga terasa panas, namun lebih rapi dan bersih, mungkin juga karena matahari sudah mulai mengurangi sengatan panasnya.
Ketika di perempatan kami diturunkan oleh sopir angkot, kami diberi petunjuk untuk menunggu angkot lain yang menuju arah barat untuk menuju makam Sunan Giri. Beberapa saat, kami menyetop angkot warna hijau, setelah bertanya sedikit kami masuk angkot dan dengan ramah sopir bercerita sedikit tentang makam Sunan Giri. Menurutnya lokasi makam tidaklah jauh, hanya nanti untuk memasuki lokasi makam kami harus menaiki banyak anak tangga, karena makam Sunan Giri berada di atas bukit. Selesai sang sopir angkot bercerita, ternyata kami sudah sampai di pintu gerbang lokasi makam. Ternyata memang benar, memasuki gerbang lokasi makam, berpuluh-puluh anak tangga sudah menanti kaki kami.
Dengan bersemangat, kami menaiki tangga satu-persatu, kira-kira setengah perjalanan ternyata cukup lelah untuk menaiki anak tangga, rupanya perlu beristirahat dulu. Namun karena ditarget waktu, kami harus lebih cepat untuk melakukan ziarah, karena masih ada satu tujuan lagi yaitu makam Syeh Maulana Malik Ibrahim.
Sebelum masuk ke area makam, kita akan memasuki lorong pasar persis seperti pasar yang ada di Masjid Ampel. Pasar ini tepat bersebelahan dengan Masjid Sunan Giri, yang saat kami berkunjung masih dalam tahap renovasi. Di ujung pasar terdapat gerbang untuk masuk ke areal pemakaman Sunan Giri. Lokasi makam berada di sebelah barat Masjid Sunan Giri. Ratusan makam terdapat di areal ini, namun kita akan langsung melihat sebuah bangunan kubah atau cungkup yang besar, tentunya ini makam Sunan Giri. Kubah atau cungkup tersebut berupa bangunan kayu berbentuk bujur sangkar dengan atap yang agak rendah. Dinding kubah berupa kayu yang diukir dengan motif tumbuhan. Untuk jenis kayunya penulis kurang mengetahui, bewarna coklat hitam. Pintu kubah sangat rendah sehingga bagi peziaran yang ingin masuk ke dalam kubah harus menunduk.
Puluhan peziarah sudah banyak duduk untuk melakukan doa-doa dan tahlil. Beruntung penulis dapat kesempatan untuk masuk ke kubah dan duduk langsung di samping makam Sunan Giri. Namun makam Sunan Giri tidaklah terlihat langsung, makam di tutupi dengan kelambu, ketika penulis mencoba membuka kelambu tersebut, ternyata dibalik kelambu masih dipagari dengan kayu berukir yang sama dengan dinding kubah.
Selesai berdoa, kami beristirahat sebentar di lokasi makam Sunan Giri. Lokasi makam terasa dingin dan nyaman, mungkin dikarenakan banyaknya tanaman yang tumbuh di sela-sela makam. Sambil beristirahat, kami memperhatikan para peziarah yang keluar masuk kubah, sayangnya ada beberapa peziarah yang kurang menghormati makam, ada yang duduk-duduk di nisan, ada yang tidak berpakaian secara muslim, bahkan ada seorang anak yang belum baligh namun dibiarkan tanpa celana. Sedangkan para pengemis yang berada di jalan masuk dan keluar makam, memang masih berlaku wajar, namun sekiranya dapat ditertibkan tentunya akan menambah kenyamanan peziarah.

0 komentar:

 

Blogger news

Mobile Edition
By Blogger Touch