Thursday, August 20, 2009

Wisata Hati (3) : Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim


Di Kota Gresik terdapat dua makam Wali Allah, yaitu makam Sunan Giri dan makam Syeh Maulana Malik Ibrahim. Menurut riwayat, Syeh Maulana Malik Ibrahim atau yang dikenal dengan Sunan Gresik merupakan wali yang paling terdahulu menyebarkan Agama Islam di Jawa Timur. Seperti yang ditulis oleh azzahraku.multiply.com, bahwa pada nisan Syeh Maulana Malik Ibrahim tertulis tahun wafat beliau yaitu 12 Rabiul Awwal 822 H atau 10 April 1419 M. Sedangkan Sunan Ampel diduga wafat setelahnya yaitu tahun 1467.
Dari lokasi makam Sunan Giri menuju makam Syeh Maulana Malik Ibrahim dapat ditempuh dengan angkot. Sewaktu kita keluar dari makam Sunan Giri sebenarnya banyak ojek dan dokar yang menawarkan untuk mengantar ke makam Syeh Maulana Malik Ibrahim, tentunya dengan tarif yang berbeda dibanding dengan angkot.
Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim terletak di sebelah timur makam Sunan Giri. Jaraknya tidaklah terlalu jauh, kira-kira tidak sampai 5 km. Lokasi makam Syeh Maulana Malik Ibrahim terletak di tengah-tengah kota Gresik, bersebelahan dengan lokasi makam pahlawan. Sebelum memasuki lokasi makam, kita akan memasuki pasar souvenir dan jajanan seperti di lokasi makam Sunan Ampel dan Sunan Giri. Namun pasar di sini terlihat lebih kecil dan sedikit, dan areal makam pun juga lebih kecil, mungkin hanya puluhan makam saja yang ada.
Di lokasi makam terdapat Masjid Syeh Maulana Malik Ibrahim dan di sebelah utara masjid terdapat kubah atau cungkup yang merupakan kubah Syeh Maulana Malik Ibrahim. Ketika penulis memasuki kubah, ternyata sudah banyak peziarah yang berdoa dan bertahlil, yang rata-ata berkelompok atau rombongan. Penulis berupaya untuk mendapat posisi paling dekat dengan makam. Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim dapat terlihat dengan jelas, terdapat tiga batu nisan yang berdampingan dan berada lebih rendah dari permukaaan tanah. Tidak jelas yang mana makam Syeh Maulana Malik Ibrahim, namun tentunya tiga makam ini merupakan makam Wali-wali Allah. Ketiga makam diberi pagar besi yang cukup tinggi. Setelah selesai bertahlil dan berdoa, penulis segera mengundurkan diri dan keluar dari kubah, untuk memberikan kesempatan kepada beberapa peziarah yang belum masuk ke dalam kubah.

Wednesday, August 19, 2009

Sumber Belajar

Oleh : Ilham Alfian Nor (2009)

Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang sumber belajar, dimulai oleh Edgar Dale (1969) seorang ahli pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang. Sedangkan definisi sumber belajar yang diberikan oleh Association for Education Communication Technology (AECT) adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa pada hakikatnya sumber belajar begitu luas dan kompleks, lebih dari sekedar media pembelajaran. Segala hal yang sekiranya diprediksikan akan mendukung dan dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pembelajaran dapat dipertimbangkan menjadi sumber belajar. Dengan pemahaman ini maka guru bukanlah satu-satunya sumber tetapi hanya salah satu saja dari sekian sumber belajar lainnya (As’ari : 2007).
Sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat permainan untuk memberikan informasi maupun berbagai keterampilan kepada murid maupun guru (Sudono dalam Trimo : 2008). Hamalik dalam Trimo (2008), menyatakan bahwa sumber belajar adalah semua sumber yang dapat dipakai oleh siswa, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan siswa lainnya, untuk memudahkan belajar. Mudhofir dalam Trimo (2008), menyatakan bahwa yang termasuk sumber belajar adalah berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan manusia, baik dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku, brosur, pamlet, majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film, kaset, video cassette, dan lain-lain).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan guru maupun siswa dalam mempelajari materi pelajaran, sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran tersebut (Trimo : 2008).
Lingkungan memang merupakan materi belajar yang sangat bermanfaat. Lingkungan dimana individu berada dapat dimanfaatkan sebagai sumber materi, baik materi yang terikat dengan kurikulum, maupun materi yang tidak mengikat namun dapat digunakan pada satu peristiwa belajar. Lingkungan belajar memang ada yang sengaja diciptakan, seperti museum, perpustakaan, dan sebagainya. Disamping itu, ada lingkungan alam dan kebendaan lain yang dimanfaatkan karena kebutuhan akan penyerapan materi tersebut. Lingkungan belajar tadi termasuk lingkungan belajar bersifat non manusia. Lingkungan yang dirancang sebagai sumber belajar misalnya museum dan perpustakaan (Prawiradilaga : 1999)
Ditinjau dari segi pendayagunaan, AECT membedakan sumber belajar menjadi dua macam yaitu:
1. Sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
2. Sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak terdapat disekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masyarakat, toko, pasar, museum.
Menurut As’ari (2007) sumber belajar terbagi menjadi enam jenis, yaitu 1) sumber berupa pesan; 2) manusia; 3) peralatan; 4) bahan; 5) teknik/metode; dan 6) lingkungan/setting.
Ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan, ketika akan memilih sumber belajar (As’ari : 2007), yaitu:
1. Bersifat ekonomis dan praktis (kesesuaian antara hasil dan biaya).
2. Praktis dan sederhana artinya mudah dalam pengaturannya.
3. Fleksibel dan luwes, maksudnya tidak kaku dalam perencanaan sekaligus pelaksanaannya.
4. Sumber sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan waktu yang tersedia.
5. Sumber sesuai dengan taraf berfikir dan kemampuan siswa.
6. Guru memiliki kemampuan dan terampil dalam pengelolaannya.
Beberapa sumber belajar yang dapat dimanfaatkan adalah :
1. Perpustakaan
2. Media Belajar/Alat Peraga
3. Majalah Dinding
4. Mengunjungi museum sesuai dengan materi (museum uang, museum sejarah atau museum hewan)
5. Study tour mengunjungi gedung geologi, lembaga pemasyarakatan atau lembaga pemerintahan
6. Mengunjungi tempat ibadah, pasar, mal (tempat belanja)
7. Mendatangkan tokoh untuk diskusi (polisi dan dokter membahas narkoba, anggota DPR membahas pemerintahan daerah dan lain-lain)

Saturday, August 15, 2009

Selamatkan Hutan Kota Banjarmasin

Sekitar dua minggu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kota Banjarmasin yang merupakan kota terbesar di Kalimantan Selatan. Lumayan lama saya sebelumnya tidak ke Kota Banjarmasin, sehingga ada beberapa perubahan kecil yang nampak dalam penglihatan saya tentang perkembangan kota, khususnya dilihat dari ruang terbuka hijau (RTH).
Ruang Terbuka Hijau merupakan lahan tidak terbangun yang ditumbuhi oleh vegetasi (tanaman) hijau, baik yang dirawat maupun yang tumbuh liar.RTH Perkotaan berarti adalah RTH yang ada di wilayah kota, baik yang berbentuk memanjang atau mengelompok, sehingga dapat memberikan manfaat secara ekologis, sosial, dan keindahan. Menurut UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasan minimal RTH di perkotaan adalah 30% dari luas wilayah kota. Selain itu dijelaskan pula, bahwa ada dua jenis RTH yaitu RTH publik dan RTH privat.
Isu RTH perkotaan saat ini menjadi hangat diperbincangkan, menyusul semakin besarnya konversi lahan RTH di perkotaan menjadi lahan non RTH, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan dampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup pada masyarakat perkotaan. Demikian yang terjadi pada salah satu RTH yang ada di Kota Banjarmasin, yaitu hutan kota yang ada di lingkungan Masjid Sabilal Muhtadin.
Ketika penulis melintas tepat di muka masjid, ternyata di bagian bawah (tanah) hutan kota tersebut telah di paving (pengerasan) dengan batako. Mungkin maksud Pengurus Masjid adalah untuk memperluas masjid, agar dapat digunakan para muslim yang melakukan ibadah. Namun Pengurus Masjid tidak memperhitungkan dampak pengerasan tanah bagian bawah hutan kota ini, terutama pada dampak ekologis. Hilangnya rumput penutup lahan hutan kota, dapat menyebabkan erosi yang membahayakan bagi pohon-pohon. Belum lagi akan tercipta iklim mikro yang lebih panas, karena bahan batako akan meningkatkan suhu udara hutan kota. Karena tanaman rumput dan perdu hilang, maka akan terjadi pengurangan penyerap (adsorber) polutan dan bunyi (kebisingan). Hilangnya beberapa organisme yang hidup di ekosistem rumput dan perdu, juga merupakan pemusnahan organisme akibat berubahnya habitatnya. Tentunya ini memberikan dampak yang serius bagi kualitas lingkungan hidup di sekitar masjid.
Secara estetika, pemandangan batako dengan warna kusam juga menurunkan daya tarik keindahan bagi pemandangan hijau di hutan kota. Bagi pengunjung yang ingin menikmati hutan kota, secara fisik dan psikologis akan merasakan perubahan pada suasana hutan kota yang berubah menjadi lebih panas dan gerah, karena panas yang berasal dari matahari akan lebih banyak dipantulkan oleh permukaan batako. Sehingga akan terjadi peningkatan suhu udara dan penurunan kelembaban. Menurut beberapa pengamatan, bahan logam dan batuan memberikan peningkatan panas 1 – 2 oC terhadap udara disekelilingnya. Ini akan memberikan sumbangan pada pemanasan global yang diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu permukaan bumi 0,6 – 0,7 oC setiap tahun.
Pada Kota Banjarmasin, sebagai kota dengan ketinggian sama dengan permukaan air laut, suhu udara di kota ini bisa mencapai 38 oC, sudah termasuk panas. Sangat ironis sekali, Kota banjarmasin dengan luas 72 km2, hanya memiliki satu hutan kota yaitu hutan kota Masjid Sabilal Muhtadin dengan luas 0,33 km2. Walaupun banyak jenis RTH yang lain seperti taman, median jalan, dan sempadan sungai, namun luasannya rata-rata kecil sehingga hampir tidak dapat menciptakan iklim mikro. Tentunya hutan kota Masjid Sabilal Muhtadin menjadi sangat berarti bagi penciptaan iklim mikro di Kota banjarmasin.
Sangat diharapkan bagi masyarakat dan Pemerintah Kota Banjarmasin selaku pengelola wilayah, memiliki persepsi yang sama dalam penyelamatan lingkungan perkotaan yang telah penuh dengan permasalah lingkungan. Masyarakat perkotaan sangat memerlukan suatu lokasi yang dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan serta peningkatan kualitas hidup, baik secara fisik maupun secara psikologis. Mari kita benahi lingkungan, dengan tetap merawat dan memelihara tanaman sebagai elemen ruang terbuka hijau, serta menghindari pengalihan fungsi lahan menjadi lahan terbangun yang tidak memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup. Tanam satu pohon dati satu orang.

Friday, August 14, 2009

Wisata Hati (2) : Makam Sunan Giri


Perjalanan dari JMP (Jembatan Merah Plaza) Surabaya menuju Gresik menggunakan angkot berupa mobil Kijang yang dimodifikasi sehingga dapat memuat penumpang sampai 10 orang lebih. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan-jalan di Kota Surabaya yang sedikit macet dan panas. Kondektur tak henti-hentinya menambah penumpang, sehingga kami yang di dalam angkot serasa ikan sarden yang saling terhimpit dengan peluh mengucur. Kira-kira satu jam perjalanan, tiba kami di Kota Gresik yang lebih bersih. Beda dengan Surabaya yang panas dan berdebu, Kota Gresik walaupun juga terasa panas, namun lebih rapi dan bersih, mungkin juga karena matahari sudah mulai mengurangi sengatan panasnya.
Ketika di perempatan kami diturunkan oleh sopir angkot, kami diberi petunjuk untuk menunggu angkot lain yang menuju arah barat untuk menuju makam Sunan Giri. Beberapa saat, kami menyetop angkot warna hijau, setelah bertanya sedikit kami masuk angkot dan dengan ramah sopir bercerita sedikit tentang makam Sunan Giri. Menurutnya lokasi makam tidaklah jauh, hanya nanti untuk memasuki lokasi makam kami harus menaiki banyak anak tangga, karena makam Sunan Giri berada di atas bukit. Selesai sang sopir angkot bercerita, ternyata kami sudah sampai di pintu gerbang lokasi makam. Ternyata memang benar, memasuki gerbang lokasi makam, berpuluh-puluh anak tangga sudah menanti kaki kami.
Dengan bersemangat, kami menaiki tangga satu-persatu, kira-kira setengah perjalanan ternyata cukup lelah untuk menaiki anak tangga, rupanya perlu beristirahat dulu. Namun karena ditarget waktu, kami harus lebih cepat untuk melakukan ziarah, karena masih ada satu tujuan lagi yaitu makam Syeh Maulana Malik Ibrahim.
Sebelum masuk ke area makam, kita akan memasuki lorong pasar persis seperti pasar yang ada di Masjid Ampel. Pasar ini tepat bersebelahan dengan Masjid Sunan Giri, yang saat kami berkunjung masih dalam tahap renovasi. Di ujung pasar terdapat gerbang untuk masuk ke areal pemakaman Sunan Giri. Lokasi makam berada di sebelah barat Masjid Sunan Giri. Ratusan makam terdapat di areal ini, namun kita akan langsung melihat sebuah bangunan kubah atau cungkup yang besar, tentunya ini makam Sunan Giri. Kubah atau cungkup tersebut berupa bangunan kayu berbentuk bujur sangkar dengan atap yang agak rendah. Dinding kubah berupa kayu yang diukir dengan motif tumbuhan. Untuk jenis kayunya penulis kurang mengetahui, bewarna coklat hitam. Pintu kubah sangat rendah sehingga bagi peziaran yang ingin masuk ke dalam kubah harus menunduk.
Puluhan peziarah sudah banyak duduk untuk melakukan doa-doa dan tahlil. Beruntung penulis dapat kesempatan untuk masuk ke kubah dan duduk langsung di samping makam Sunan Giri. Namun makam Sunan Giri tidaklah terlihat langsung, makam di tutupi dengan kelambu, ketika penulis mencoba membuka kelambu tersebut, ternyata dibalik kelambu masih dipagari dengan kayu berukir yang sama dengan dinding kubah.
Selesai berdoa, kami beristirahat sebentar di lokasi makam Sunan Giri. Lokasi makam terasa dingin dan nyaman, mungkin dikarenakan banyaknya tanaman yang tumbuh di sela-sela makam. Sambil beristirahat, kami memperhatikan para peziarah yang keluar masuk kubah, sayangnya ada beberapa peziarah yang kurang menghormati makam, ada yang duduk-duduk di nisan, ada yang tidak berpakaian secara muslim, bahkan ada seorang anak yang belum baligh namun dibiarkan tanpa celana. Sedangkan para pengemis yang berada di jalan masuk dan keluar makam, memang masih berlaku wajar, namun sekiranya dapat ditertibkan tentunya akan menambah kenyamanan peziarah.

Thursday, August 13, 2009

Mana Nasionalis-mu Bung !!!


Kurang dari seminggu lagi kita akan memperingati hari lahirnya bangsa ini. Tanggal 17 Agustus tinggal beberapa hari lagi, setiap orang tentu maklum bahwa pada tanggal tersebut harus diperingati dengan meriah. Setiap RT, RW, bahkan setiap gang, melakukan berbagai perayaan yang bertujuan untuk memeriahkan hari kemerdekaan ini. Beraneka ragam lomba diadakan, dari yang lomba olahraga yang umum sampai lomba yang aneh-aneh, dengan peserta anak-anak sampai kakek-kakek, bahkan ibu-ibu dengan balitanya juga. Setiap orang bergembira dengan perayaan ini, tidak terkecuali anak-anak yang tidak tahu-menahu dengan sejarah 17 Agustus.
Namun dibalik semua kemeriahan tersebut, ada sesuatu yang telah mulai luntur dan menghilang di hati mereka itu. Secara fisik saja, masyarakat mulai enggan untuk menancapkan merah putih di muka rumah masing-masing. Entah apakah belum punya bendera dan tiangnya, atau apakah malas untuk mendirikan tiang bendera dan mengibarkan merah putih sebagai perlambang rasa nasionalis. Perkara mengibarkan bendera ini nampaknya merupakan hal yang sepele. Namun jika itu sangat menyolok, tentunya menjadi pertanyaan yang serius.
Sampai saat ini, hanya kantor-kantor pemerintahan saja yang memasang umbul-umbul dan hiasan merah putih. Masyarakat sebagian besar masih belum memasang bendera merah putih. Sedangkan di toko-toko dan pusat perbelanjaan masih ramai dengan spanduk dan reklame iklan. Kondisi demikian tentunya memperihatinkan bagi penanaman nilai nasionalis kepada anak-anak dan remaja. Suatu saat mungkin anak-anak dan remaja akan melupakan sejarah 17 Agustus itu sendiri.
Marilah kita ingat kembali, pesan Demang Lehman sebelum beliau digantung oleh Belanda, “Tanah Banjar kada lapas matan Walanda, mun kada di palas lawan darah”. Pesan ini mensyaratkan kepada kita bahwa, kemerdekaan dan kebebasan yang kita rasakan sekarang, tidak di dapat dengan gratis. Belanda dan Jepang tidak pernah menghadiahkan kemerdekaan bangsa ini kepada kita. Ingatlah bagaimana penderitaan Pangeran Antasari dalam melalui berbagai pertempuran kemudian beliau harus menahan rasa sakit sehingga wafat di persembunyian. Kemudian pertempuran di Marabahan yang menewaskan Panglima Wangkang. Demikian juga tewasnya para pejuang-pejuang di Martapura, Kandangan, Amuntai, Pelaihari, bahkan daerah-daerah Kaltim dan Kalteng.

Wednesday, August 12, 2009

Seandainya Atom Sebesar Kelereng


Kalau kita membeli rambutan seikat, biasanya kita tidak menghitung berapa biji rambutan dalam ikatan itu. Karena sudah kebiasaan, dalam satu ikat rambutan biasanya terdiri dari 10 biji. Jadi kalau memebeli 10 ikat, maka jumlah rambutannya ada 100 biji.
Sedangkan pada peralatan makan terdapat satuan lusin, yang menyatakan sebanyak 12 buah. Kalau 10 lusin gelas maka tentunya terdapat 120 buah gelas.
Demikian juga pada satuan kodi, yang menyatakan jumlah 20 buah. Satuan-satuan tersebut populer di masyarakat, karena selalu dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada prinsipnya, satuan mol juga demikian. Hanya saja, satuan mol hanya digunakan dalam telaah Ilmu Kimia yang terbatas pada pendidikan (akademis) dan penelitian, khususnya pada Ilmu Kimia. Satuan mol menyatakan jumlah benda sebanyak 602.000.000.000.000.000.000.000 buah atau ditulis secara matematis 6,02 x 1023. Satuan mol digunakan untuk menyatakan jumlah zat yang terdiri dari jumlah atom atau molekul yang sangat mikro. Jadi kalau 10 mol zat berarti mengandung jumlah atom atau molekul sebanyak 6,02 x 1024 buah.
Dalam sejarahnya, penentuan angka satuan mol melalui beberapa kali usulan. Namun angka 6,02 x 1023 yang merupakan usulan dari Avogadro dipakai sebagai besaran satuan mol, atau yang dikenal dengan Bilangan Avogadro. Angka ini terdapat dalam proposal Avogadro yang diajukan pada tahun 1811 tentang Teori Kinetik Gas. Kemudian banyak ilmuwan yang mengusulkan angka yang berbeda untuk menyatakan jumlah zat, seperti Loschmidt pada tahun 1865, dia mengusulkan angka 72×1023, yang didapat dari jumlah molekul gas yang ada di bumi. Kemudian tahun 1908, Perrin mengusulkan angka 6,7 × 1023, setahun kemudian Rutherford mengusulkan angka 6,16 x 1023. Lalu Milikan dengan percobaannya pada tahun 1917 yaitu pada percobaan tetes minyak mengusulkan angka 6,064 x 1023, dan yang terakhir yaitu Nouy pada tahun 1924 yang meneliti tentang molekul lapisan tipis mengusulkan angka 6,004 x 1023.
Pada dasarnya semua angka hampir menunjukkan besar yang sama, hanya Loschmidt yang agak beda jauh. Namun semua ilmuwan sepakat untuk menggunakan usulan Avogadro untuk menyatakan besaran satuan mol. Melalui pengukuran volum molar, didapat Bilangan Avogadro sebesar 6,0221335 x 1023.
Sebagai ilustrasi untuk satuan mol adalah sebagai berikut :
1. Seandainya atom sebesar kelereng dengan isi 1 cm3, maka 1 mol kelereng memiliki volume sebesar 6,02 x 1023 cm3 atau 6,02 x 108 km3. Jika kelereng disebar ke permukaan bumi, maka bumi akan tertutupi kelereng sampai ketinggian 50 mil.
2. Jika menghitung 10 juta atom memerlukan waktu satu detik, maka menghitung satu mol menghabiskan waktu selama 2 milyar tahun. WOW

Sunday, July 26, 2009

Wisata Hati (1)


Foto dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Ampel
Paparan dibawah ini hanya sekedar pengalaman pribadi yang penulis lakukan beberapa waktu yang lalu. Kebetulan mumpung berada di Jawa Timur, penulis berkesempatan untuk melakukan perjalanan wisata religi dengan tujuan berziaran ke makam-makam para Wali Allah di daerah Jawa Timur.
Hari pertama ditetapkan tujuan untuk mendatangi makam Sunan Ampel di Surabaya, makam Sunan Giri dan makam Syeh Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Berangkat dari Malang yaitu tempat bermukim penulis sementara menuju Surabaya dengan menggunakan angkutan bis. Kalau anda dari luar Jawa Timur maka pintu gerbang masuk ke daerah ini adalah Surabaya, tepatnya kalau dengan pesawat udara maka anda akan masuk lewat Bandara Juanda. Dari bandara Juanda, anda dapat menumpang bis DAMRI yang akan menuju Terminal Purabaya Bungurasih, tarifnya Rp. 15.000. Kalau anda masuk lewat laut, maka anda masuk lewat Pelabuhan Tanjung Perak, dari pelabuhan lokasi makam Sunan Ampel tidaklah jauh, anda dapat naik angkot atau angkutan lainnya.
Dari Terminal Bungurasih perjalanan dilanjutkan dengan bis kota dengan tujuan JMP (Jembatan Merah Plaza), tarif yang dikenakan adalah Rp. 3.500. Sesampainya di JMP, penulis diantar dengan becak. Sebenarnya penulis tidak begitu suka naik becak, karena naik becak seakan menjadi beban bagi orang lain yang mengayuh becak dengan tenaga manusia ... Jaraknya sebenarnya tidak jauh, dan pada saat pulang, penulis hanya berjalan kaki.
Di lokasi, kita akan disambut sebuah gapura yang bertuliskan “MASJID SUCI AMPEL”. Memasuki gapura kita memasuki pasar yang diisi oleh pedagang-pedagang yang menawarkan barang dagangan khas dari timur tengah dan muslim. Mulai dari kurma, kopiah, tasbih, sampai baju muslim beraneka model. Setelah menyusuri pasar kira-kira sejauh 100 m, kita memasuki wilayah Masjid Ampel yang megah.
Lokasi makam berada di sebelah barat dari masjid. Ketika kita akan memasuki lokasi makam, kita diperingatkan untuk melepaskan alas kaki, tidak makan minum, dan tidak diperbolehkan mengambil foto di areal pemakaman Sunan Ampel. Areal pemakaman cukup luas, makam Sunan Ampel dan istri diberi pagar besi tersendiri, tidak berkubah atau cungkup, jadi seperti kondisi makam biasa yang terbuka, hanya diberi tanda nisan agak besar dan dibatasi pagar besi. Disamping pagar besi terdapat terdapat bangunan beratap yang diperuntukkan untuk peziarah untuk dapat berteduh dalam melakukan doa ataupun aktivitas ziarah lainnya.
Menurut sunatullah.com dalam Babad Gresik menyebutkan pada 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid”. Sunan Ampel wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya. Kompleks makam dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air
Tidak ada hal yang istimewa dari Masjid Ampel dan makam Sunan Ampel, arsitektur masjid seperti kebanyakan masjid lainnya. Hanya daerah Ampel merupakan wilayah kota tua dari Kota Surabaya. Kebanyakan masih menyisakan bangunan-bangunan tua yang dibangun kira-kira sejak jaman penjajahan. Bangunan yang lebih bagus digunakan sebagai perkantoran, sedangkan yang lain berupa toko-toko tua yang diisi dengan barang yang diperdagangkan ke luar pulau Jawa.
Perjalanan kemudian penulis lanjutkan dengan tujuan Kota Gresik, yang berada di utara Surabaya. Di Gresik terdapat dua lokasi makam Wali Allah yaitu makam Sunan Giri dan Syeh Maulana Malik Ibrahim.
 

Blogger news

Mobile Edition
By Blogger Touch